Kebebasan yang Terenggut
Karya: Dzakirah talita az-zahra
Lembut sapa sang bayu membelai. Hati berdegup kencang gelisah tak tahu apa yang harus aku lakukan.
Aku hanya mampu berdoa semoga malam tak cepat berganti siang. Aku ingin tetap bercinta dengan malam tanpa berganti hari.
Hidup bersama dengan lelaki yang tak pernah kita cintai serasa bagaikan dalam jeruji besi. Aku memang menikah dengan saudagar kaya apapun serba ada. Dari segi materi aku tak pernah kekurangan apapun dipenuhi.
Namun tanpa cinta apa artinya semua. Aku lebih rela Hidup beratapkan langit berlantai bumi dengan kekasih yang bisa menyayangi dan memberiku rasa nyaman. Dari pada dengan orang kaya namun bertindak semaunya.
Aku bagai burung dalam sangkar emas. Aku ingin bebas tanpa kau kekang. Aku sudah dewasa aku tahu batas sebagai seorang istri.
Aah ... Sudahlah apa gunanya aku teriak. Tak kan mungkin kau dengar suaraku. Aku hanya mampu bicara pada tembok yang hanya membisu. Yang hanya mampu memelukku dari dinginnya angin malam.
Takdir... Seorang wanita hanya sebagai boneka pajangan dalam kamarnya. Sampai kapan engkau mengurungku.
Mungkin setelah nyawaku terbang melayang tinggalkan ragaku yang mulai mengerang kesakitan baru kau sadar bahwa aku juga butuh kebebasan.
******************
Pagi masih menggelayut mesra enggan beranjak dari hamparan spon tanpa busa. Kurasakan sakit,ngilu sekujur tubuhku.
Si mbok masuk kamarku dengan membawa sepiring nasi goreng dan kopi luwakku.
" Bangun nduk, sudah siang ini."
" Iya Mbok, ini juga dah bangun, mas Danu sudah pergi mbok." tanyaku.
" Sudah, astagfirullah nduk ... Kenapa tubuhmu ini kok lebam biru-biru gini."
" Nggak papa mbok ini sudah biasa kualami, ini luka seorang istri mbok, biasa terjadi pada saya." sambil kuseka air mata yang tak kubiarkan menetes.
" Jadi nduk, bapak itu ..." ucapan simbok menggantung ditenggorokannya. Pertanyaan yang tak perlu jawaban tentunya.
Dengan telaten simbok olesi gambar unik ditubuhku. Ya itu lah surga rumah tangga ataukah neraka rumah tangga. Aku tak bisa menjawabnya. Kebodohanku dengan semua ini Kenapa aku terus bertahan, kenapa aku tak coba berlari.
Satu yang Aku tahu pasti jawabannya. Aku tak ingin orang tua ku terluka. Bapak punya hutang anak-beranak pada mas Danu dan Aku sebagai pelunasannya. Miris bukan?
Aaach ... Sudahlah tak perlu disesali. Yang penting Aku sudah berbakti pada orang tua. Aku iklas dengan apa yang terjadi asal orang tuaku baik-baik saja.
Dua bulan telah berlalu kurasakan jenuh hariku.
Kucoba utarakan niatku pada mas Danu, aku ingin pulang tengok Bapak ibu.
" Mas, aku ingin ke rumah Bapak, boleh kah?."
" Untuk apa, di rumah bapakmu tidak ada apa-apa. Mereka baik-baik saja, kamu tak usah pulang." tegasnya.
" Tapi mas aku ingin tengok mereka, apa salahnya mas tak perlu ikut cukup aku sendiri."
" Aku kepala keluarga disini aku yang berhak memutuskan, kamu ... Kamu hanya duduk, makan dan melayani aku cukup, jangan banyak omong."
Harus ku telan jamu pahit rupanya dari semua ini. Aku mulai bertanya tentang hadirku disini sebagai apa. Budak, pelacur atau istri?
Berkecamuk sejuta tanya yang kucoba rangkai sendiri jawabannya. Kalau sebagai istri kenapa aku tak punya hak untuk ucapkan permintaan.
Tak lebih aku ibarat sama dengan pelacur harus disiksa dengan sabuk ketika harus melayani nafsu syetan laki-laki tambun Perut buncit itu.
Cuiiih ... Sakit, marah, dendam berkecamuk dalam jiwaku. Kapan aku bisa pergi dari neraka yang membuatku bagaikan mayat hidup.
**********************
Malam telah larut pintu kamarku dibuka. Kulihat mas Danu dengan seorang temannya. Bau alkohol menyengat dari mulut serigala-serigala itu. Apa-apa ini kenapa dia bawa masuk orang lain ke kamarku. Jangan ... Jangan, otakku berputar menafsir hal buruk yang bakal terjadi.
Pisau kecil dibawah bantalku. Ya itu senjata yang bakal aku gunakan, pikirku.
" Nem, bangun layani tamuku." ucap mas Danu kala itu.
" Apa? Siapa dia mas pikir aku pelacur yang harus melayani orang lain?."
" Ha ... Ha ... Ha ... Persis perempuan cerdik kau harus layani dia kalau tidak kubunuh kau."
" Nggak, aku berhak untuk menolak aku bukan pelacur cukup, aku sudah muak dengan perlakuan mas."
" Mulai membangkang kau rupanya," dengan kasar dia menampar mukaku.
" Layani dia atau engkau mati "tegasnya sekali lagi.
Dia pergi dan mengunci pintu dari luar. Kulihat laki-laki ini melihatku dengan sadisnya. Tuhan aku harus lepas, aku tak mau Jadi budak mereka. Mati terhormat atau hidup terjajah aku harus memilih.
Dia mencoba mendekatiku. Aku tatap dengan lekat orang yang berdiri tegap didepanku.
Dia tersenyum basi dengan bau alkohol yang kian menjadi.
" Tunggu kau siapa? dan kenapa aku harus melayani mu?"
" kau harus jadi milikku malam ini, karena Danu kalah judi denganku dan kau Jadi taruhannya."
" Apa? Dancok tu orang suami macam apa dia, lalu pantaskah aku masih bertahan, batinku mulai berperang. Ya aku harus pergi malam ini."
" Dan saatnya kau harus jadi peneman tidurku malam ini, sini."
" Jangan mendekatiku atau pisau ini menyobek mulutmu."
Dengan senyum lebar dia tertawa lepas. Meremehkan ancamanku. Aku berangsur mendekat jendela kamar sambil pisau ditangan.
Dia terus mencoba dekati aku. Tuhan mungkin malam ini adalah malam kebebasanku untuk selamanya. Aku tak ingin terus hidup dalam kandang serigala ini.
Biarlah jika memang takdir ku sampai disini. Titip Bapak ibuku Tuhan, jaga mereka.
Doa terakhir yang terlafas dari bibir. Sebelum akhirnya aku terjun ke cendela menerobos kebebasan yang aku inginkan.
Selamat tinggal Bapak-ibu maafkan anakmu. Tak mampu membahagiakan kalian saat ini.
********Tamat *********
Taiwan, 10 juli 2015